Sabtu, 02 Mei 2015

KESEHATAN REPRODUKSI



TUMOR GANAS PADA ORGAN REPRODUKSI WANITA
(VULVA,VAGINA,TUBA,UTERUS DAN OVARIUM)
1.  Tumor ganas (kanker) Vulva

a.   Pengertian
Ø Vulva merupakan bagian luar dari sistem reproduksi wanita, yang meliputi labia, lubang vagina, lubang uretra dan klitoris.
Ø Tumor ganas vulva adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah vulva dan merusak jaringan sekitarnya.
b.  Epidemologi
80-85% terdapat pada wanita baik (pasca menopause), terutama yang dalam dekade ke-7 sebagai puncak insidensi, paling tidak mengenai 30%.
c. Etiologi
Tidak banyak diketahui mengenai etiologi jenis tumor ganas ini, meskipun disebut tentang lambatnya menarche (15-17 tahun) dan awalnya menopous (40 tahun) dalam riwayat penyakitnya.
d.  Patologi
Lesi primer sering berupa ulkus dengan tepi induratif (ulcero-granulating) atau sebagai tumbuhan eksofitik (kutil) dengan tempat predileksi terutama di labia mayora, labia minora, klitoris dan komisura posterior. Lesi bilateral tidaklah jarang, bahkan kedua labia mayora dapat simetris terkena (kissing).
e.Klasifikasi
1.       Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel-sel skuamosa yang merupakan jenis sel kulit yang utama. Kanker jenis ini biasanya terbentuk secara perlahan selama bertahun-tahun dan biasanya didahului oleh suatu perubahan prekanker yang mungkin berlangsung selama beberapa tahun. 
Istilah kedokteran yang sering digunakan untuk keadaan prekanker ini adalah Neoplasma Intraepitel Vulva (NIV). Intraepitel artinya sel-sel prekanker terbatas pada epitel yang merupakan lapisan permukaan pada kulit vulva. NIV terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu NIV1, NIV2, and NIV3. Istilah lainnya untuk NIV adalah displasia. Tingkat keparahan perubahan prekanker mulai dari yang terendah sampai yang terberat:
- NIV1 atau displasia ringan
- NIV2 atau displasia menengah
- NIV3 atau displasia berat
- Karsinoma in situ
- Karsinoma invasif. 
2.       Melanoma
Melanoma berasal dari sel penghasil pigmen yang memberikan warna pada kulit. 
3.       Sarkoma
Sarkoma adalah tumor jaringan ikat di bawah kulit yang cenderung tumbuh dengan cepat. Sarkoma vulva bisa menyerang semua golongan usia, termasuk anak-anak.
4.       Karsinoma sel basal
Karsinoma sel basal sangat jarang terjadi pada vulva, karena biasanya menyerang kulit yang terpapar oleh sinar matahari.
5.       Adenokarsinoma
Sejumlah kecil kanker vulva berasal dari kelenjar dan disebut adenokarsinoma. Beberapa diantaranya berasal dari kelenjar Bartholin yang ditemukan pada lubang vagina dan menghasilkan cairan pelumas yang menyerupai lendir. Kebanyakan kanker kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, tetapi beberapa diantaranya (terutama yang tumbuh dari saluran kelenjar) merupakan karsinoma sel transisional atau karsinoma sel skuamosa. Meskipun agak jarang, adenokarsinoma juga bisa berasal dari kelenjar keringat pada kulit vulva.
f.    Faktor resiko
1)       Infeksi HPV atau kutil kelamin (kutil genitalis) HPV merupakan virus penyebab kutil kelamin dan ditularkan melalui hubungan seksual.
2)       Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina
3)       Infeksi sifilis
4)       Diabetes
5)       Obesitas
6)       Tekanan darah tinggi.
7)       Usia
Tigaperempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun.
8)       Hubungan seksual pada usia dini
9)       Berganti-ganti pasangan seksual
10)   Merokok
11)   Infeksi HIV
12)   HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga wanita lebih mudah mengalami infeksi HPV menahun. Golongan sosial-ekonimi rendah.Hal ini berhubungan dengan pelayanan kesehatan yang adekuat, termasuk pemeriksaan kandungan yang rutin.
13)   Neoplasia intraepitel vulva (NIV)
14)   Liken sklerosus
15)   Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal.
16)   Peradangan vulva menahun
17)   Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva.




g.    Gejala
Kanker vulva mudah dilihat dan teraba sebagai benjolan, penebalan ataupun luka terbuka pada atau di sekitar lubang vagina. Kadang terbentuk bercak bersisik atau perubahan warna. Jaringan di sekitarnya mengkerut disertai gatal-gatal. Pada akhirnya akan terjadi perdarahan dan keluar cairan yang encer. 
Gejala lainnya adalah: 
ü  nyeri ketika berkemih 
ü  nyeri ketika melakukan hubungan seksual. 
ü  Hampir 20% penderita yang tidak menunjukkan gejala. 
h.    Stadium
Stadium
Kriteria
0
Karsinoma in situ, karsinoma intraepitel seperti pada penyakit Bowen, penyakit Paget yang noninvasif
I
Tumor terbatas pada vulva dengan diameter terbesar 2 cm / kurang kelenjar di lipat paha tak teraba, atau teraba tidak membesar dan mudah digerakan (mobil), klinis tidak mencurigakan adanya anak sebar di situ.
II
Tumor terbatas pada vulva dengan diameter > 2 c, kelejar di lipat paha ( inguinal )tidak teraba bilateral, tidak membesar dan mobil, klinis tidak mencurigakan adanya anak sebar di situ.
III
Tumor dari setiap ukuran dengan :
1) Perluasan ke urethra, atau vagina, perineum dan anus
2) Pembesaran kelenjar lipat pada uni/ bilateral, mobil tapi klinis mencurigakan telah terinfiltrasi oleh sel tumor.
IV
Tumor dari setiap ukuran yang :
1) Telah menginfiltrasi kandung kemih, mukosa rektum, atau ke dua-duanya termasuk bagian proksimal dari urethra
2) Telah menyebar ke tulang atau metastasis jauh.



i.      Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil biopsi jaringan. Jika hasil biopsi menunjukkan bahwa telah terjadi kanker vulva, maka dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebaran kanker ke daerah lain:
1.       Sistoskopi (pemeriksaan kandung kemih)
2.       Proktoskopi (pemeriksaan rektum)
3.       Pemeriksaan panggula dibawah pengaruh obat bius
4.       Rontgen dada
5.       CT scan dan MRI.
j.   Pengobatan
Terdapat 3 jenis pengobatan untuk penderita kanker vulva:
1.    Pembedahan 
·         Eksisi lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah jaringan normal di sekitar kanker.
·         Eksisi lokal radikal : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah besar jaringan normal di sekitar kanker, mungkin juga disertai dengan pengangkatan kelenjar getah bening.
·         Bedah laser : menggunakan sinar laser untuk mengangkat sel-sel kanker.
·         Vulvektomi skinning : dilakukan pengangkatan kulit vulva yang mengandung kanker.
·         Vulvektomi simplek : dilakukan pengangkatan seluruh vulva.
·         Vulvektomi parsi
·         Eksenterasi panggul : jika kanker telah menyebar keluar vulva dan organ wanita lainnya, maka dilakukan pengangkatan organ yang terkenal (misalnya kolon, rektum, atau kantung kemih) bersamaan dengan pengangkatan leher rahim, rahim, dan vagina. Untuk membuat vulva atau vagina buatan setelah pembedahan, dilakukan pencangkokan kulit dari bagian tubuh lainnya dan bedah plastik


2.   Terapi penyinaran
Pada terapi penyinaran digunakan sinar X atau sinar berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.
3.   Kemoterapi
Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker.
Pengobatan kanker vulva tergantung kepada stadium dan jenis penyakit serta usia dan keadaan umum penderita.
v  Kanker vulva stadium 0
a)         Eksisi lokar luas atau bedah laser, atau kombinasi keduanya
b)         Vulvektomi skinning
c)         Salep yang mengandung obat kemoterapi
v  Kanker vulva stadium l
a.       Eksisi lokal luas
b.       Eksisi lokal radikal, pengangkatan seluruh kelenjar getah bening selangkangan dan paha bagian atas terdekat pada sisi yang sama dengan kanker.
c.       Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan pada salah satu atau kedua sisi tubuh.
d.       Terapi penyinaran saja.
v  Kanker vulva stadium ll
o   Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan kiri dan kanan.
o   Terapi penyinaran.
v  Kanker vulva stadium lll
a.       Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan dan paha.
b.       Terapi radiasi dan kemoterapi diikuti oleh vulvektomik radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening kiri dan kanan.
c.       Terapi penyinaran.


v  Kanker vulva stadium IV
a.       Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon bagian bawah, rektum, atau kandung kemih.
b.       Vulvektomi  radikal diikuti dengan terapi penyinaran.
c.       Terapi penyinaran diikuti dengan vulvektomi radikal.
d.       Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi dan mungkin juga diikuti oleh pembedahan.
v  Kanker vulva yang berulang
a.       Eksisi lokal luas dengan atau tanpa terapi penyinaran.
b.       Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon, rektum, atau kandung kemih.
c.       Terapi penyinaran ditambah dengan kemoterapi dengan atau tanpa pembedahan.
d.       Terapi penyinaran untuk kekambuhan lokal atau untuk mengurangi gejala nyeri, mual, atau kelainan fungsi tubuh.
k.    Pencegahan
Ada dua cara untuk mencegah kanker vulva :
1.       Menghindari faktor resiko yang bisa dikendalikan.
2.       Mengobati keadaan prekanker sebelum terjadinya kanker invasif.
Keadaan prekanker bisa ditemukan dengan menjalani pemeriksaan sistem reproduksi secara teratur dan memeriksakan setiap ruam, atau tahi lalat, benjolan atau kelainan vulva lainnya yang sifatnya menetap. Pengobatan NIV bisa mencegah sejumlah kasus kanker invasif.
Setiap wanita hendaknya mewaspadai setiap perubahan yang terjadi pada kulit vulva dengan melakukan pemeriksaan sendiri setiap bulan.







2.     Tumor ganas (kanker) Vagina
kanker  vagina

a.    Pengertian
Ø  Vagina adalah saluran terpanjang 7,5-10 cm, ujung atasnya berhubungan denga serviks (leher rahim), sedangkan ujung bawahnya berhubungan dengan vulva.
Ø   Tumor ganas vagina adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah vagina dan merusak jaringan sekitarnya.
b.    Epidemiologi
Kanker vagina jarang terjadi, biasanya diderita oleh wanita berumur 50 tahun ke atas.
c.    Patologi
Terbanyak (hampir 99%) adalah squamous cell carsinoma, sisanya adenokarsinoma dan embrional rhabdomiosarkoma (sarkoma botrioides).
d.    Klasifikasi
1.  Karsinoma sel skuamosa
Berasal dari lapisan epitelium vagina. Banyak ditemukan di vagina bagian atas
pada wanita berusia 60-80 tahun.
2. Karsinoma verukosa
            Sejenis karsinoma sel skuamosa yang tumbuhnya lambat, tumbuh ke arah rongga             vagina dan tampak seperti kutil atau bunga kol.
3. Adenokarsinoma
          Sering terjadi pada wanita 12-30 tahun.
4. Melanoma maligna
            Berasal dari sel-sel penghasil pigmen, banyak ditemukan di vagina bagian bawah.
5. Sarkoma
Tumbuh jauh di dalam dinding vagina. Ada beberapa jenis sarkoma, yaitu :
- Ieiomiosarkoma, menyerang wanita berusia 50 tahun ke atas
- Rabdomiosarkoma,kanker pada masa kanak-kanak (biasanya terjadi sebelum usia 3 tahun)
0
Karsinoma in situ, karsinoma intra epitelial (sel-sel kanker terbatas pada epitelium vagina dan belum menyebar ke lapisan vagina lainnya. Pada stadium ini kanker tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
I
Kanker telah menyebar ke bawah epitelium tetapi masih terbatas pada mukosa vagina (mukosa terdiri dari 2 lapisan, yaitu epitelium dan lamina propria atau stroma subepitel)
IA
Tumor berukuran kurang dari 2 cm dan telah menembus ke dalam dinding kurang dari 1 mm.
IB
Tumor lebih besar dari 2 cm dan telah menembus ke dalam dinding sedalam lebih dari 1 mm
II
Proses sudah meluas sampai jaringan ikat vagina,tetapi belum mencapai dinding panggul maupun organ lain.
III
Proses telah meluas sampai ke salah satu/kedua dinding panggul dan atau telah menyebar ke kelenjar getah bening.
IVA
Proses sudah keluar dari panggul kecil,atau sudah menginfiltrasi mukosa rektum/kandung kemih
IVB
Kanker telah menyebar ke organ tubuh yang jauh misalnya paru-paru

e.    Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan :
·         Kolposkopi -> pemeriksaan dinding vagina dengan bantuan kaca pembesar.
·     Biopsi       -> pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh jaringan vagina.
·        Staging    -> Staging merupakan proses penentuan penyebaran kanker, yang penting dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis penyakit. Penilaian penyebaran kanker vagina melibatkan beberapa pemeriksaan berikut :
1)    Pemeriksaan fisik menyeluruh
2)    Pielogram intravena
3)    Barium enema
4)    Rontgen dada
5)    Sistoskopi
6)    Proktoskopi
7)    CT scan
8)    Skening tulang
f.    Pengobatan
Terdapat 3 macam pengobatan untuk kanker vagina :
1)       Pembedahan
ü Bedah laser
ü Eksisi lokal luas : dilakuakn pengangkatan kanker dan sebagian jaringan di sekitarnya. Untuk memperbaiki vagina bisa dilakukan pencangkoan kulit yang di ambil dari bagian tubuh lainnya.
ü Vaginektomi : pengangkatan vagina.
ü Eksenterasi : pengangkatan kolon bawah, rektum atau kandung kemih, disertai pengangkatan serviks, rahim dan vagina.
2)        Terapi penyinaran
Pada terapi penyinaran digunakan sinar X dosis tinggi atau sinar berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.
3)  Kemoterapi
Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker.

v  Pengobatan kanker vagina tergantung kepada stadium dan jenis penyakit, serta usia dan keadaan umum penderita.
1.       Kanker vagina stadium 0
·      Vaginektomi
·      Terapi radiasi interna
·      Bedah laser
·      Kemoterapi intravagina
2.       Kanker vagina stadium I
·         Kanker skuamosa -> radiasi interna, eksisi lokal luas, vaginektomi dan diseksi kelenjar getah bening.
·         Adenokarsinoma -> vaginektomi dan pengangkatan rahim, ovarium, tuba fallopi disertai diseksi kelenjar getah bening panggul, radiasi interna dan eksisi lokal luas.
3.       Kanker vagina stadium II, III dan IVA
·      Kombinasi radiasi interna dan eksterna
·      Pembedahan
4.       Kanker vagina stadium IVB
·      Penyinaran
·      Kemoterapi
g. Pencegahan
      Cara terbaik mencegah kanker vagina adalah menghindari faktor resikonya. Jaga area kewanitaan tetap bersih dan terhindar dari infeksi jenis apapun.








3.  Tumor ganas (kanker) Tuba

a.    Pengertian
v  Tuba adalah saluran yang keluar dari kornu rahim kanan dan kiri, panjangnya 12-13 cm, diameternya 3-8 mm. bagian luarnya diliputi oleh peritoneum viseral yang merupakan bagian dari ligamentum latum.
v  Tumor tuba adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah tuba dan merusak jaringan sekitarnya.
b.    Epidemologi
Karsinoma tuba fallopi primer termasuk jarang, merupakan tumor ganas primer saluan genetalia perempuan yang jumlahnya paling sedikit, yaitu 0,5% hingga 1% dari  semua keganasan ginekologi. Ditemukan 1 banding 1000 kasus operasi ginekologi abdominal, dapat dijumpai pada semua umur (dari 19-80), dengan rata – rata puncaknya pada usia 52 tahun. Kebanyakan tumor ganas yang timbul dalam tuba fallopi adalah penyebaran dari kanker ovarium atau uterus. Sehingga terdapat kriteria untuk menetapkan tumor apapun sebagai tumor primer dari tuba fallopi. Kanker harus terletak dalam tuba, dan uterus serta ovarium harus terbebas dari karsinoma. Bila bagian lain terdapat kanker, maka tumor dalam tuba fallopi secara histology harus benar – benar berbeda.
c.    Patologi
Hsu, Taymor, dan Hertig membagi histologik tumor ini dalam 3 jenis menurut keganasannya:
1.       Jenis papiler : tumor belum mencapai otot tuba dan difeensiasi selnya masih baik, batas daerah normal dengan tumor masih dapat ditunjukkan.
2.       Jenis papilo-alveolar (adenomatosa) : tumor ini telah memasuki otot tuba dan memperlihatkan gambaran kelenjar.
3.       Jenis alveo-meduler : terlihat mitosis yang atipik dan terlihat invasi sel ganas ke dalam saluran limfa tuba.
d.  Klasifikasi
Tumor ganas primer tuba fallopi yang paling sering adalah adenokarsinoma. Tumor – tumor lain dapat berupa sarcoma seperti leimoosarkoma, kondrosarkoma, tumor mesodermal campuran, limfoma, dan kariokarsinoma. Semua jenis kanker ganas dalam tuba fallopi ini sangat jarang. Tumor ganas tuba fallopi bernetastasis dengan pembuluh limfe menuju kelenjar regional dan menyebar dengan cara bermigrasi ke dalam pelvis atau rongga abdomen, atau mungkin berpenetrasi ke serosa dan sel – sel melepaskan diri langsung ke dalah pelvis atau rongga abdomen.
e.   Faktor penyebab
f.   Gejala
Bila terdapat tanda dan gejala yaitu rabas vagina, perdarahan abnormal vagina atau rabas, menstruasi yang tidak teratur, dan nyeri. Kanker tuba paling banyak ditemikan pada wanita pasca menopause, tetapi bisa juga ditemukan pada wanita yang lebih muda.
g.   Stadium
Stadium
Kriteria
IA
Pertumbuhan tumor terbatas pada salah satu tuba; tidak ada ascites.
1. Tak ditemukan tumor di permukaan luar, kapsulnya utuh.
2. Tumor terdapat di permukaan luar, atau kapsulnya pecah atau kedua-duanya.
IB
Pertumbuhan tumor terbatas pada kedua tuba; tidak ada asites.
1. Tak ada tumor di permukaan luar, kapsulnya utuh.
2. Tumor terdapat di permukaan luar, atau kapsulnya pecah, atau kedua-duanya.
IC
Tumor dari tingkatan klinik 1A dan IB, tetapi ada asites atau cucian rongga perut positif.
II
Pertumbuhan tumor melibatkan satu atau dua tuba, dengan perluasan ke panggul.
IIA
Perluasan proses dan/ atau metastatis ke uterus atau ovarium.
IIB
Perluasan proses ke jaringan panggul lainnya.
IIC
Tumor dari tingkat klinik IIA atau IIB, tetapi dengan asites dan/atau cucian rongga perut positif.
III
Tumor melibatkan satu atau dua tuba dengan penyebaran kelenjar limfa intraperitoneal, atau kedua-duanya. Tumor terbatas pada panggul kecil dengan bukti histologik penyebaran ke usus halus atau omentum.
IV
Pertumbuhan tumor melibatkan salah satu atau kedua tuba dengan metastasis berjarak jauh. Bilamana didapatkan efusi pleural, harus ada sitologi positif untuk menyebutnya sebagai tingkat klinik IV. Begitu pula ditemukannya metastasis keparenkim hatci.

h.  Diagnosa
            Untuk memastikan apakah tuba falopi tersumbat, dokter bisa menggunakan hysterosalpingography. Pada prosedur ini, sinar X dilakukan setelah radiopaque dye disuntikkan melalui servik. Pewarna tersebut menyebar secara cepat ke dalam rongga rahim dan tuba falopi. Prosedur ini dilakukan dengan singkat setelah periode menstruasi seorang wanita berakhir. Prosedur ini bisa mendeteksi gangguan struktur yang bisa menyumbat tuba falopi. Meskipun begitu, sekitar 15% kasus, hysterosalpingography mengindikasi bahwa tuba falopi tersumbat padahal tidak- disebut hasil positif palsu. Setelah hysterosalpingography dengan hasil normal, kesuburan tampak sedikit meningkat, kemungkinan karena prosedur tersebut sementara waktu memperlebar pembuluh (dilate) atau menjernihkan pembuluh pada lendir. Oleh karena itu, dokter bisa menunggu jika seorang wanita menjadi hamil setelah prosedur ini sebelum tes tambahan pada fungsi tubafalopi.
            Prosedur lain (disebut sonohysterography) kadangkala digunakan untuk memastikan apakah tuba falopi tersumbat. Cairan garam (saline) disuntikkan ke dalam interior rahim melalui servik selama ultrasonografi sehingga ruang dalam tersebut digelembungkan dan kelainan bisa terlihat. Jika cairan mengalir ke dalam tuba falopi, pembuluh tersebut tidak tersumbat. Prosedur ini cepat dan tidak memerlukan anestesi. Hal ini dipertimbangkan lebih aman dibandingkan hysterosalpingography karena hal ini tidak membutuhkan radiasi atau suntikan pewarna. Meskipun begitu, hal ini tidak akurat.
            Jika kelainan di dalam rahim terdeteksi, dokter meneliti rahim dengan pipa pelihat disebuthyteroscope, yang dimasukkan ke dalam servik ke dalam rahim. Jika adhesion, polip, atau fibroid kecil terdeteksi, hyteroscope kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal, meningkatkan kesempatan bahwa wanitatersebutmenjadihamil.Jika bukti menduga bahwa tuba falopi tersumbat atau bahwa seorang wanita bisa mengalami endometriosis, pipa pelihat kecil disebut laparoscope dimasukkan ke rongga panggul melalui sayatan kecil persis di bawah pusar. Biasanya, anestesi umum dilakukan. Prosedur ini memudahkan dokter untuk melihat rahim secara langsung, tuba falopi, dan ovarium. Laparoscope bisa juga digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal di dalam panggul.
i.    Pengobatan
Pengobatan yang utama untuk kanker tuba adalah pembedahan untuk mengangkat kedua saluran, kedua indung telur, dan rahim disertai pengangkatan kelenjar getah bening perut dan panggul. Pada kanker stadium lanjut, setelah pembedahan mungkin perlu dilakukan kemoterapi atau terapi penyinaran.

 
4  .  Tumor ganas (kanker) Uterus
 
a.   Pengertian
v  Uterus adalah suatu struktur otot yang cukup kuat, bagian luarnya ditutupi oleh peritonium sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim,  dalam keadaan tidak hamil, rahim terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan dubur.
v   Tumor uterus adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah rahim dan merusak jaringan sekitarnya.
b.    Etiologi
v  Wanita dengan nullypara ( wanita kurang subur ).
v    Etiologi secara pasti tidak diketahui
v  Tetapi ada korelasi antara pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri dan juga dipengaruhi oleh hormone pertumbuhan.
v  faktor genetic
v  Resiko tinggi wanita dengan umur diatas 35 tahun
c.    Klasifikasi
Jenis – jenis tumor uterus berdasarkan letaknya, yaitu :
1.       Ektoserviks terbagi atas :
Kista jaringan embrional : berasal dari saluran mesonefridikus wolffi terdapat pada dinding samping ektoserviks. Kista endometriosis yang letaknya suferfisial. Folikel atau kista nabothi yaitu kista retensi kelenjar endoserviks, biasanya terdapat pada wanita multipara, sebagai penampilan servisitis. Kista ini jarang mendapat ukuran besar berwarna putih mengkilat bersih cairan mucus. Kalau kista ini membesar akan menyebabkan nyeri.
Papiloma dapat tunggal maupun multiple seperti kondiloma akuminata. Kebanyakan papiloma ini adalah sisa epitel yang terlebih pada trauma bedah maupun persalinan.
Hemangioma ini jarang terjadi biasanya terletak pada superficial yang dapat membesar pada waktu kehamilan yang dapat menyebabkan metroragi
2.        Endoserviks terdiri atas:.
adalah suatu adenoma maupun adenofibroma yang berasal dari selaput lendir endoserviks. Yang tangkainya dapat panjang keluar dari vulva. Epitel yang melapisi adalah epitel endoserviks yang dapat juga mengalami metaplasi menjadi lebih semakin kompleks.bagian polip ini biasa menjadi nekrosis dan mengalami perdarahan . polip ini berkembang karena pengaruh radang maupun virus.
3.       Endometrium
Polip endometrium sering didapati terutama dengan pemeriksaan histeroskopi. Polip berasal antara lain dari adnoma, adenofibroma, mioma , submukusum, plasenta.insiden tidak diketahui paling sering pada perempuan berumur 30-59 tahun. Kurang dari sepertiga memperllihatkan endometrium fungsional. Bisa memperlihatkan hyperplasia kistik. Bisa menonjol melalui serviks
Adenoma- adenufibroma yang biasannya terdiri dari epitel endometrium dengan stroma yang sesuai dengan daur haid. Adenoma ini biasanya merupakan penampilan hyperplasia endometrium, dengan konsistensi lunak dan berwarna kemerah merahan . Gangguan yang sering ditimbulkan adalah metroragi sampai menometroragi, infertilitas.Pula mempunyai kecenderungan kambuh kembali.
Mioma submukosum:sarang mioma dapat tumbuh bertangkai dan keluar dari uterus menjadi mioma yang dilahirkan. Tumor berkonsistensi kenyal berwarna putih
Polip plasenta: berasal dari plasenta yang tertinggal setelah partus maupun abortus. Polip plasenta menyebabkan uterus mengalami sub-involusi yang menimbulkan perdarahan.
4.  Miometrium
Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya ,sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah fibromioma,leiomioma, ataupun pibroid.
Berdasarkan otopsi novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.Mioma uteri belum pernah terjadi sebelum menars. Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh.
d.    Faktor resiko
1.       Usia, kanker uterus terutama menyerang wanita berusia 50 tahun keatas.
2.       Hiperplasia endometrium
3.       Terapi Sulih Hormon (TSH)
4.       TSH digunakan untuk mengatasi gejala-gejala menopause, mencegah osteoporosis dan mengurangi resiko penyakit jantung atau stroke.
Wanita yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko yang lebih tinggi. Pemakaian estrogen dosis tinggi dan jangka panjang tampaknya mempertinggi resiko ini.
Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan progesteron memiliki resiko yang lebih rendah karena progesteron melindungi rahim.
5.       Obesitas
Tubuh membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obes.
6.       Diabetes (kencing manis)
7.       Hipertensi (tekanan darah tinggi)
8.       Tamoksifen
Wanita yang mengkonsumsi tamoksifen untuk mencegah atau mengobati kanker payudara memiliki resiko yang lebih tinggi. Resiko ini tampaknya berhubungan dengan efek tamoksifen yang menyerupai estrogen terhadap rahim.
Keuntungan yang diperoleh dari tamoksifen lebih besar daripada resiko terjadinya kanker lain, tetapi setiap wanita memberikan reaksi yang berlainan.
9.       Ras
Kanker rahim lebih sering ditemukan pada wanita kulit putih.
10.   Kanker kolorektal
11.   Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun
12.   Menopause setelah usia 52 tahun
13.   Tidak memiliki anak
14.   Kemandulan
15.   Penyakit ovarium polikista
16.   Polip endometrium.
e.    Gejala
1.       Perdarahan rahim yang abnormal
2.       Siklus menstruasi yang abnormal
3.       Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)
4.       Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause
5.       Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun)
6.       Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
7.       Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)
8.       Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
9.       Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.
10.   Tekanan abdomen (merasa penuh, bengkak atau kembung)
11.   Perasaan ingin buang air kecil terus menerus
f.    Stadium
Tingkat
Kriteria


I
kanker hanya tumbuh di badan rahim
II
kanker telah menyebar ke leher rahim (serviks)
III
kanker telah menyebar ke luar rahim, tetapi
masih di dalam rongga panggul dan belum
menyerang kandung kemih maupun rektum. Kelenjar getah bening panggul mungkin mengandung sel-sel kanker.
IV
Kanker telah menyebar ke dalam kandung kemih atau rektum atau kanker telah menyebar keluar rongga panggul.
g.    Diagnosa
1.       Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut :
2.       Pemeriksaan panggul
3.       Pap smear
4.       USG transvagina
5.       Biopsi endometrium.
6.       Untuk membantu menentukan stadium atau penyebaran kanker, dilakukan pemeriksaan berikut :
7.       Pemeriksaan darah lengkap
8.       Pemeriksaan air kemih
9.       Rontgen dada
10.   CT scan tulang dan hati
11.   Sigmoidoskopi
12.   Limfangiografi
13.   Kolonoskopi
14.   Sistoskopi.
h.    Pengobatan
Pemilihan pengobatan tergantung kepada ukuran tumor, stadium, pengaruh hormon terhadap pertumbuhan tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor serta usia dan keadaan umum penderita. Metode pengobatan:
1.        Pembedahan
Kebanyakan penderita akan menjalani 
Histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya.
2.        Terapi penyinaran (radiasi)
Digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.
Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari.
Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Ada 2 jenis terjapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker rahim:
1.       Radiasi eksternal : digunakan sebuah mesin radiasi yang besar untuk mengarahkan sinar ke daerah tumor. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama beberapa minggu dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada radiasi eksternal tidak ada zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh.
2.       Radiasi internal : digunakan sebuah selang kecil yang mengandung suatu zat radioaktif, yang dimasukkan melalui vagina dan dibiarkan selama beberapa hari. Selama menjalani radiasi internal, penderita dirawat di rumah sakit.
3.         Kemoterapi
Pada terapi hormonal digunakan zat yang mampu mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah pemakaian hormon oleh sel kanker. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan menyebabkan perubahan di dalam jaringan rahim.
Sebelum dilakukan terapi hormon, penderita menjalani tes reseptor hormon. Jika jaringan memiliki reseptor, maka kemungkinan besar penderita akan memberikan respon terhadap terapi hormonal.
Terapi hormonal merupakan terapi sistemik karena bisa mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Pada terapi hormonal biasanya digunakan pil progesteron.
Terapi hormonal dilakukan pada:
a.       penderita kanker rahim yang tidak mungkin menjalani pembedahan ataupun terapi penyinaran
b.       penderita yang kankernya telah menyebar ke paru-paru atau organ tubuh lainnya.
c.       penderita yang kanker rahimnya kembali kambuh.
Jika kanker telah menyebar atau tidak memberikan respon terhadap terapi hormonal, maka diberikan obat kemoterapi lain, yaitu siklofosfamid, doksorubisin dan sisplastin. 
i.      Pencegahan
Setiap wanita sebaiknya menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear secara rutin, untuk menemukan tanda-tanda pertumbuhan yang abnormal.
Wanita yang memiliki faktor resiko kanker rahim sebaiknya lebih sering menjalani pemeriksaan panggul, Pap smear dan tes penyaringan (termasuk biopsi endometrium). 

5.  Tumor ganas (kanker) ovarium


a.   Pengertian
v  Ovarium adalah organ reproduksi wanita yang bentuknya menyerupai kacang dan tersimpan di dalam rongga pert sebelah bawah.
v  Tumor ganas ovarium adalah kanker yang menyerang ovarium
b.  Epidemologi
Kanker ovarium jarang ditemukan pada usia dibawah 40 tahun. Angka kejadianmeningkat dengan makin tua, yaitu 15-16 per 100.000 pada usia 40-44 tahun, dan paling tinggiyaitu 57 per 100.000 pada usia 70-74 tahun. Usia median saat diagnosis adalah 63 tahun dan48% penderita berusia diatas 65 tahun. Belum ada metode skrining yang efektif untuk kanker ovarium, sehingga 70% kasus ditemukan pada stadium lanjut.
c.    Etiologi
Ada beberapa teori tentang etiologi kanker ovarium yaitu:
1.  Hipotesis Incessant Ovulation
Teori ini pertama kali diperkenalkan olehFathalla pada tahun 1972, yangmenyatakan bahwa pada saat terjadi ovulasi, terjadi kerusakan pada sel-sel ovarium.Untuk penyembuhan luka yang sempurna diperlukan waktu. Jika sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru, proses penyembuhan akan terganggu dankacau sehingga dapat menimbulkan transformasi menjadi sel-sel tumor.
2. Hipotesis gonadotropin
Teori ini didasarkan pada pengetahuan dari percobaan binatang dan data epidemiologi. Hormon hipofisis diperlukan untuk perkembangan tumor ovarium pada beberapa percobaan pada rodentia. Pada percobaan ini ditemukan bahwa jika kadar hormon estrogen rendah di sirkulasi perifer, kadar hormon gonadotrofin juga menigkat.Peningkatan kadar hormon gonadotrofin ini ternyata berhubungan dengan makin bertambah besarnya tumor ovarium pada binatang tersebut.Kelenjar ovarium yang telah terpapar pada zat karsinogenik dimetilbenzatrene (DMBA) akan menjadi tumor ovarium jika ditransplantasikan pada tikus yang telah diooforektomi, tetapi tidak menjadi tumor jika tikus tersebut telah di hipofisektomi.Berkurangnya resiko kanker ovarium pada wanita multipara dan wanita pemakai pil kontrasepsi dapat diterangkan dengan rendahnya kadar gonadotrofin.
3  Hipotesis Androgen
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Rish pada tahun 1998 yang mengatakan bahwa androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Teori ini didasarkan pada bukti bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Epitelovarium selalu terpapar pada androgenic steroid yang berasal dari ovarium itu sendiri dan kelenjar adrenal, seperti androstenedion, dehidroepiandrosteron, dan testosterone. Dalam percobaan invitro androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan juga sel-sel kanker ovarium epitel dalam kultur sel.
4   Hipotesis progesteronBerbeda dengan efek peningkatan resiko kanker ovarium oleh androgen, progesteron ternyata mempunyai peranan protektif terhadap terjadinya kanker ovarium. Epitel normal ovarium mengandung reseptor progesteron. Pemberian pil yang mengandung estrogen saja pada wanita pasca menopauseakan meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium, sedangkan pemberian kombinasidengan pemberian progesteron akan menurunkan resikonya. Kehamilan, dimana kadar  progesteron tinggi, menurunkan resiko kanker ovarium. Pil kontrasepsi kombinasimenurunkan resiko terjadinya kanker ovarium.
5. Paritas
Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan satu paritas yang tinggi memilikiresiko terjadinya kanker ovarium yang lebih rendah daripada nulipara, yaitu denga risikorelative 0,7. Pada wanita yang mengalami 4 atau lebih kehamilan aterm, resiko terjadinyakanker ovarium berkurang sebesar 40% jika dibandingkan dengan wanita nulipara.
6. Pil kontrasepsi
Penelitian dari center for disease control menemukan penurunan resiko terjadinya kanker ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontasepsi,yaitu dengan resiko relative 0,6.
7 Talk
Pemakaian talk pada daerah perineum dilaporkan meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium dengan resiko relative 1,9%.
8 Ligasi tuba 
Pengikatan tuba ternyata menurunkan terjadinya kanker ovarium dengan resiko relatif 0,3. Mekanisme terjadinya efek protektif ini diduga dengan terputusnya akses talk ataukarsinogen lainnya dengan ovarium.



d.    Patologi
1.  Pertumbuhan tumor prime diikuti oleh infiltrasi ke jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar seperti perasaan sebah, makan sedikit terasa cepat menjadi kenyang, sering kembung, nafsu makan menurun. Kecenderungan untuk melakukan implantasi di rongga perut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan ascites.
2.  Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal, dan mesodermal) dengan sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam. Oleh sebab itu histiogenesis maupun klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan.
3.  Kira-kira 60% terdapat pada usia peri-menopausal, 30% dalam masa reproduksi dan 10% pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak jelas jinak tapi juga tidak pasti ganas (borderline malignancy atau carcinoma of low-malignant potential) dan yang jelas ganas (true malignant).
e.    Klasifikasi
Klasifikasi Tumor Ovrium menurut WHO yang dimodifikasi :
Ø  Tumor Epitelial yang umum :
a.       Serosa,  
b.       Musinosa
c.       Endometroid,
d.       Clearcell (mesonephroid) :
b)       Benigna,
c)       Borderline malignancy,
d)       Karsinoma, 
a.       Brenner,
b.       Epitelial campuran,
c.       Karsinoma tak terdiferensiasi,
Ø  Tumor tak terklasifikasi.
Ada 2 jenis : serosa dan musinosa. Kedua-duanya mempunyai kecenderungan untuk tumbuh bilateral dan berimplantasi di rongga peritoneum. Perubahan ke arah ganas terjadi pada yang berjenis serosa. Kistadenokarsinoma papiliferum pseudo-musinosa merupakan satu variasi dari tumor dengan kemungkinan penyebaran lokal yang tinggi.
1.       Sex-cord stromal tumours :
·    Tumor Granulosa-theca cell :
2.       Benigna,
3.       Maligna, 
·  Androblastoma (sertoli-leydig),
4.       Androblastoma atau tumor yang berasal dari mesenkhim akan mendiferensiasi ke dalam struktur gonadal laki-laki :
5.       Arrhenoblastoma, mikroskopik terlihat gambaran tubuler dan berhubungan denagan gejala/ tanda defeminisasi atau maskulinisasi,
6.       Tumor Sertoli cell, adalah bentuk feminisasi dari Androblastoma. Sel-sel sertoli merupakan sumber dari estrogen pada gonad lelaki,
7.       Tumor Sel Granulosa, 
8.       Tumor Sel Theca.
a.       Gynandroblastoma,
b.       Tidak terklasifikasi.
Diduga berasal dari mesenkhim gonad, yang potensial mampu mendiferensiasi ke dalam struktur gonad laki-laki dan wanita hingga tumor dapat mengakibatkan munculnya tanda-tanda maskulinisasi atau feminisasi pada penderitanya.
·         Tumor-tumor lipid cell.
·         Tumor-tumor Germ-cell :
-     Disgerminoma,  
Biasanya terdapat pada wanita muda dan sangat radioaktif. Tumor dengan permukaan rata, konsistensi kenyal, kecuali di bagian-bagian yang mengalami degenerasi, berwarna sawo matang sampai keabu-abuan. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat gambaran sarang-sarang sel telur yang besar, bundar, ovoid, atau poligonal, terpisah oleh septa jaringan ikat. 88,6% dapat disembuhkan hanya dengan USO (Unilateral Salpingo Oerectomy), kalau perlu pasca bedah dapat dipertimbangkan radioterapi pada tumor bed karena tumor ini sangat radiosensitif dan radiocurable.

-     Tumor Sinus Endodermal,
Berasal dari jolk sac atau saccus vitellinus, umumnya ditemukan pada gadis atau wanita muda (20 tahun) dan sangat ganas. Pada pemeriksaan mikroskopik didapatkan retikulum dengan ruangan berbentuk kistik (sinus endodermal) di tengahnya. Sinus tersebut terdiri atas pembuluh darah ditengahnya oleh sel-sel kuboid.
-     Karsinoma Embrional,
-     Poli-Embrioma,
-     Khoriokarsinoma,
Tumor primer berasal dari ovarium jarang ditemukan mempunyai ciri-ciri seperti khoriokarsinoma sesudah kehamilan (NTGG = Neoplasia Trofoblast Ganas Gestasional). Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan sinsio – dan sitotrofoblastanpa villikhoroalis.
-     Teratoma :
Diduga berkembang dari jaringan embrional yang pluripoten dan mampu membentuk elemen-elemen dari ketiga lapisan embrional. Teratoma ovarium bisa ditemukan dalam bentuk kistik maupun solid. Teratoma maligna yang ganas berbentuk solid, terdiri atas campuran jaringan sel telur yang matang (matur) dan yang tidak matang (immatur). Teratoma ganas biasanya ditemukan pada anak-anak dan pada penderita dalam masa pubertas. Tumor ini tumbuh cepat dan mempunyai prognosis yang buruk. Pada pemeriksaan klinik ditemukan tumor di samping uterus, kadang kala disertai perdarahan dari uterus dan ascites. Terapinya pembedahan dengan khemoterapi sebelum atau sesudahnya.
f.    Faktor resiko
1.       usia 55 – 59 tahun
2.       pernah mengalami kanker payudara
3.       penggunaan metode KB pil
4.       nuliparitas
5.       infertilitas
6.       Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara dan/atau kanker ovarium
7.       Riwayat keluarga yang menderita kanker kolon, paru-paru, prostat dan rahim (menunjukkan adanya sindroma Lynch II).

g.   Gejala
1.       Gejala awalnya berupa rasa tidak enak yang samar-samar di perut bagian bawah.
2.       Ovarium yang membesar pada wanita pasca menopause bisa merupakan pertanda awal dari kanker ovarium.
3.       Di dalam perut terkumpul cairan dan perut membesar akibat ovarium yang membesar ataupun karena penimbunan cairan.
4.       Pada saat ini penderita mungkin akan merasakan nyeri panggul,anemia dan berat badannya menurun.
5.       Kadang kanker ovarium melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan berlebih pada lapisan rahim, pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan rambut.
6.       Gejala lainnya yang mungkin terjadi:
- Panggul terasa berat
- Perdarahan pervaginam
- Siklus menstruasi abnormal
7.       Gejala saluran pencernaan (perut kembung, nafsu makan berkurang, mual, munatah, tidak mampu mencerna makanan dalam jumlah seperti biasanya).
h.  Stadium
Stadium
Interpretasi
I
Ia
Ib
Ic
II
IIa
IIb
IIc
III
IV
Khusus
Tumor terbatas di ovarium 
Pertumbuhan tumor ganas di satu ovarium dan tidak ada asites
Tumor terbatas di kedua ovarium tanpa asites
Tumor terbatas di satu atau kedua ovarium, sitologi asites/air cucian peritoneum posirif maligma
Tumor di satu atau kedua ovarium dengan pertumbuhan dalam pelvis
Tumor di satu atau kedua ovarium dengan pertumbuhan dalam pelvis minor dan pada pembedahan tumor terangkat seluruhnya
Tumor meluas pada jaringan pelvis lain dan pada pembedahan tumor tidak terangkat seluruhnya
Tumor stadium IIa atau IIb, tapi asites atau cucian peritoneum positif sel maligma
Tumor di satu atau kedua ovarium dengan metastasis pada peritoneum di luar panggul dan KGB retroperitoneal atau keduanya. Tumor terbatas pada panggul kecil dengan metastasis ke dinding usus dan omentum, dibuktikan dengan histopatologis
Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Metastasis ke hati atau adanya efusi pleura yang dibuktikan dengan sitologi juda digolongkan stadium IV
Kasus yang tidak dilakukan laparotomi, tapi diduga karsinoma ovarium

i.    Diagnosa
Diagnosis didasarkan atas 3 gejala/ tanda yang biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut :
1.       Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar,
2.       Gejala diseminasi/ penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan bermanifestasi adanya ascites
3.        Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme, intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.
Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdominal akan mendapatkan tumor atau masa, di dalam panggul dengan bermacam-macam konsistensi mulai dari yang kistik sampai yang solid (padat). Pemakaian USG (Ultra Sono Graphy) dan CTscan (Computerised axial Tomography scanning) dapat memberi informasi yang berharga mengenai ukuran tumor dan perluasannya sebelum pembedahan. Laparotomi eksploratif disertai biopsi potong beku (Frozen section) masih tetap merupakan prosedur diagnostik paling berguna untuk mendapat gambaran sebenarnhya mengenai tumor dan perluasannya seta menentukan strategi penanganan selanjutnya.
j.     Pengobatan
1.       Pembedahan
Pada tingkatan awal, prosedur adalah TAH + BSO + OM + APP (optional). Luas prosedur pembedahan ditentukan oleh insidensi dari seringnya penyebaran ke sebelah yang lain (bilateral) dan kecenderungan untuk menginvasi badan rahim (korpus uteri). Tindakan konservatif (hanya mengangkat tumor ovariumnya saja : oophorektomi atau oophoro kistektomi) masih dapat dibenarkan jika tingkat klinik penyakit T1a, wanita masih muda, blum mempunyai anak, derajat keganasan tuor rendah seperti disgerminoma, tumor sel granulosa, dan arrhenoblastoma atau low potential malignancy = bordeline malignancy
2.        Radioterapi
Sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik TI dan T2 (FIGO: Tingkat I dan II), yang diberikan kpada panggul saja atau seluruh rongga perut. Pada tingkat klinik T3 dan T4 (FIGO: tingkay III dan IV) dilakukandebulking dilanjutkan dengan khemoterapi. Radiasi untuk membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis tumor yang peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor sel granulosa.
3. Khemoterapi
Sekarang telah mendapat tempat yang diakui dalam penanganan tumor ganas ovarium. Sejumlah obat sitostatika telah digunakan, termasuk agens alkylating (seperti cyclophospamide, chlorambucil), antimetabolit (seperti Adriamisin) dan agenslain (seperti Cis-Platinum). Penanganan paliatif tumor ganas ovarium sering menggunakan preparat hormon progestativa.
k.   Pencegahan
Beberapa faktor muncul untuk mengurangi risiko kanker indung telur, termasuk:
a)       Kontrasepsi oral (pil KB). Dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menggunakan mereka, para wanita yang menggunakan kontrasepsi oral selama lima tahun atau lebih mengurangi risiko kanker ovarium sekitar 50 persen, sesuai dengan ACS.
b)       Kehamilan dan menyusui. Memiliki paling tidak satu anak menurunkan risiko Anda mengalami kanker ovarium. Menyusui anak-anak juga dapat mengurangi risiko kanker ovarium.

KESIMPULAN
v  Tumor ganas vulva adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah vulva dan merusak jaringan sekitarnya.
v  Tumor ganas vagina adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah vagina dan merusak jaringan sekitarnya
v  Tumor tuba adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah tuba dan merusak jaringan sekitarnya.
v  Tumor uterus adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah rahim dan merusak jaringan sekitarnya.
v  Tumor ganas ovarium adalah kanker yang menyerang ovarium

SARAN
Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah yang penulis susun.


DAFTAR PUSTAKA

v  Mochtar, Rustam. Sinopsis obstetrik. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998.
v  Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta: EGC, 1998.
v  Prawirhadjo, Sarwono . Ilmu Kebianan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2008, hal;588-595
v  Sastrawinata,S.dkk.2004.obsetri patologi.jakarta:ECG


Tidak ada komentar:

Posting Komentar