TUMOR GANAS PADA ORGAN REPRODUKSI WANITA
(VULVA,VAGINA,TUBA,UTERUS DAN OVARIUM)
1. Tumor
ganas (kanker) Vulva
a. Pengertian
Ø Vulva merupakan bagian luar dari sistem reproduksi
wanita, yang meliputi labia, lubang vagina, lubang uretra dan klitoris.
Ø Tumor ganas vulva adalah kanker yang tumbuh dengan
cepat dan tidak terkendali pada daerah vulva dan merusak jaringan sekitarnya.
b.
Epidemologi
80-85% terdapat pada wanita baik (pasca menopause),
terutama yang dalam dekade ke-7 sebagai puncak insidensi, paling tidak mengenai
30%.
c. Etiologi
Tidak banyak diketahui mengenai etiologi jenis
tumor ganas ini, meskipun disebut tentang lambatnya menarche (15-17 tahun) dan
awalnya menopous (40 tahun) dalam riwayat penyakitnya.
d.
Patologi
Lesi primer sering berupa ulkus dengan tepi induratif
(ulcero-granulating) atau sebagai tumbuhan eksofitik (kutil) dengan tempat
predileksi terutama di labia mayora, labia minora, klitoris dan komisura
posterior. Lesi bilateral tidaklah jarang, bahkan kedua labia mayora dapat
simetris terkena (kissing).
e.Klasifikasi
1. Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel-sel skuamosa yang merupakan jenis sel kulit yang utama. Kanker jenis ini biasanya terbentuk secara perlahan selama bertahun-tahun dan biasanya didahului oleh suatu perubahan prekanker yang mungkin berlangsung selama beberapa tahun.
Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel-sel skuamosa yang merupakan jenis sel kulit yang utama. Kanker jenis ini biasanya terbentuk secara perlahan selama bertahun-tahun dan biasanya didahului oleh suatu perubahan prekanker yang mungkin berlangsung selama beberapa tahun.
Istilah kedokteran yang sering digunakan untuk keadaan
prekanker ini adalah Neoplasma Intraepitel Vulva (NIV). Intraepitel
artinya sel-sel prekanker terbatas pada epitel yang merupakan lapisan
permukaan pada kulit vulva. NIV terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu NIV1, NIV2,
and NIV3. Istilah lainnya untuk NIV adalah displasia. Tingkat keparahan
perubahan prekanker mulai dari yang terendah sampai yang terberat:
- NIV1 atau displasia ringan
- NIV2 atau displasia menengah
- NIV3 atau displasia berat
- Karsinoma in situ
- Karsinoma invasif.
- NIV1 atau displasia ringan
- NIV2 atau displasia menengah
- NIV3 atau displasia berat
- Karsinoma in situ
- Karsinoma invasif.
2. Melanoma
Melanoma berasal dari sel penghasil pigmen yang memberikan warna pada kulit.
Melanoma berasal dari sel penghasil pigmen yang memberikan warna pada kulit.
3. Sarkoma
Sarkoma adalah tumor jaringan ikat di bawah kulit yang cenderung tumbuh dengan cepat. Sarkoma vulva bisa menyerang semua golongan usia, termasuk anak-anak.
Sarkoma adalah tumor jaringan ikat di bawah kulit yang cenderung tumbuh dengan cepat. Sarkoma vulva bisa menyerang semua golongan usia, termasuk anak-anak.
4. Karsinoma sel basal
Karsinoma sel basal sangat jarang terjadi pada vulva, karena biasanya menyerang kulit yang terpapar oleh sinar matahari.
Karsinoma sel basal sangat jarang terjadi pada vulva, karena biasanya menyerang kulit yang terpapar oleh sinar matahari.
5. Adenokarsinoma
Sejumlah kecil kanker vulva berasal dari kelenjar dan disebut adenokarsinoma. Beberapa diantaranya berasal dari kelenjar Bartholin yang ditemukan pada lubang vagina dan menghasilkan cairan pelumas yang menyerupai lendir. Kebanyakan kanker kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, tetapi beberapa diantaranya (terutama yang tumbuh dari saluran kelenjar) merupakan karsinoma sel transisional atau karsinoma sel skuamosa. Meskipun agak jarang, adenokarsinoma juga bisa berasal dari kelenjar keringat pada kulit vulva.
Sejumlah kecil kanker vulva berasal dari kelenjar dan disebut adenokarsinoma. Beberapa diantaranya berasal dari kelenjar Bartholin yang ditemukan pada lubang vagina dan menghasilkan cairan pelumas yang menyerupai lendir. Kebanyakan kanker kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, tetapi beberapa diantaranya (terutama yang tumbuh dari saluran kelenjar) merupakan karsinoma sel transisional atau karsinoma sel skuamosa. Meskipun agak jarang, adenokarsinoma juga bisa berasal dari kelenjar keringat pada kulit vulva.
f.
Faktor resiko
1) Infeksi HPV atau kutil kelamin (kutil
genitalis) HPV merupakan virus penyebab kutil kelamin dan ditularkan
melalui hubungan seksual.
2) Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina
3) Infeksi sifilis
4) Diabetes
5) Obesitas
6) Tekanan darah tinggi.
7) Usia
Tigaperempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun.
Tigaperempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun.
8) Hubungan seksual pada usia dini
9) Berganti-ganti pasangan seksual
10) Merokok
11) Infeksi HIV
12) HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyebabkan
kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga wanita lebih mudah mengalami
infeksi HPV menahun. Golongan sosial-ekonimi rendah.Hal ini berhubungan
dengan pelayanan kesehatan yang adekuat, termasuk pemeriksaan kandungan yang
rutin.
13) Neoplasia intraepitel vulva (NIV)
14) Liken sklerosus
15) Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan
gatal.
16) Peradangan vulva menahun
17) Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain
vulva.
g. Gejala
Kanker vulva mudah
dilihat dan teraba sebagai benjolan, penebalan ataupun luka terbuka pada atau
di sekitar lubang vagina. Kadang terbentuk bercak bersisik atau perubahan
warna. Jaringan di sekitarnya mengkerut disertai gatal-gatal. Pada akhirnya
akan terjadi perdarahan dan keluar cairan yang encer.
Gejala lainnya
adalah:
ü
nyeri
ketika berkemih
ü
nyeri
ketika melakukan hubungan seksual.
ü
Hampir
20% penderita yang tidak menunjukkan gejala.
h. Stadium
Stadium
|
Kriteria
|
0
|
Karsinoma in situ,
karsinoma intraepitel seperti pada penyakit Bowen, penyakit Paget yang
noninvasif
|
I
|
Tumor terbatas pada
vulva dengan diameter terbesar 2 cm / kurang kelenjar di lipat paha tak
teraba, atau teraba tidak membesar dan mudah digerakan (mobil), klinis
tidak mencurigakan adanya anak sebar di situ.
|
II
|
Tumor terbatas pada
vulva dengan diameter > 2 c, kelejar di lipat paha ( inguinal )tidak
teraba bilateral, tidak membesar dan mobil, klinis tidak mencurigakan adanya
anak sebar di situ.
|
III
|
Tumor dari setiap
ukuran dengan :
1) Perluasan ke
urethra, atau vagina, perineum dan anus
2) Pembesaran
kelenjar lipat pada uni/ bilateral, mobil tapi klinis mencurigakan telah
terinfiltrasi oleh sel tumor.
|
IV
|
Tumor dari setiap
ukuran yang :
1) Telah
menginfiltrasi kandung kemih, mukosa rektum, atau ke dua-duanya termasuk
bagian proksimal dari urethra
2) Telah
menyebar ke tulang atau metastasis jauh.
|
i. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan
berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan
hasil biopsi jaringan. Jika hasil biopsi menunjukkan bahwa telah
terjadi kanker vulva, maka dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui
penyebaran kanker ke daerah lain:
1. Sistoskopi (pemeriksaan kandung kemih)
2. Proktoskopi (pemeriksaan rektum)
3. Pemeriksaan panggula dibawah pengaruh obat bius
4. Rontgen dada
5. CT scan dan MRI.
j. Pengobatan
Terdapat 3 jenis
pengobatan untuk penderita kanker vulva:
1. Pembedahan
·
Eksisi
lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah jaringan normal di
sekitar kanker.
·
Eksisi
lokal radikal : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah besar jaringan
normal di sekitar kanker, mungkin juga disertai dengan pengangkatan kelenjar
getah bening.
·
Bedah
laser : menggunakan sinar laser untuk mengangkat sel-sel kanker.
·
Vulvektomi
skinning : dilakukan pengangkatan kulit vulva yang mengandung kanker.
·
Vulvektomi
simplek : dilakukan pengangkatan seluruh vulva.
·
Vulvektomi
parsi
·
Eksenterasi
panggul : jika kanker telah menyebar keluar vulva dan organ wanita lainnya,
maka dilakukan pengangkatan organ yang terkenal (misalnya kolon, rektum, atau
kantung kemih) bersamaan dengan pengangkatan leher rahim, rahim, dan vagina.
Untuk membuat vulva atau vagina buatan setelah pembedahan, dilakukan
pencangkokan kulit dari bagian tubuh lainnya dan bedah plastik
2. Terapi
penyinaran
Pada terapi penyinaran digunakan sinar X atau sinar
berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran
tumor.
3. Kemoterapi
Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh
sel-sel kanker.
Pengobatan kanker vulva tergantung kepada stadium dan
jenis penyakit serta usia dan keadaan umum penderita.
v
Kanker
vulva stadium 0
a)
Eksisi
lokar luas atau bedah laser, atau kombinasi keduanya
b)
Vulvektomi
skinning
c)
Salep
yang mengandung obat kemoterapi
v
Kanker
vulva stadium l
a. Eksisi lokal luas
b. Eksisi lokal radikal, pengangkatan seluruh kelenjar
getah bening selangkangan dan paha bagian atas terdekat pada sisi yang sama
dengan kanker.
c. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah
bening selangkangan pada salah satu atau kedua sisi tubuh.
d. Terapi penyinaran saja.
v
Kanker
vulva stadium ll
o
Vulvektomi
radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan kiri dan kanan.
o
Terapi
penyinaran.
v
Kanker
vulva stadium lll
a. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah
bening selangkangan dan paha.
b. Terapi radiasi dan kemoterapi diikuti oleh vulvektomik
radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening kiri dan kanan.
c. Terapi penyinaran.
v
Kanker
vulva stadium IV
a. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon bagian
bawah, rektum, atau kandung kemih.
b. Vulvektomi radikal diikuti dengan terapi
penyinaran.
c. Terapi penyinaran diikuti dengan vulvektomi radikal.
d. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan
atau tanpa kemoterapi dan mungkin juga diikuti oleh pembedahan.
v
Kanker
vulva yang berulang
a. Eksisi lokal luas dengan atau tanpa terapi penyinaran.
b. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon, rektum,
atau kandung kemih.
c. Terapi penyinaran ditambah dengan kemoterapi dengan
atau tanpa pembedahan.
d. Terapi penyinaran untuk kekambuhan lokal atau untuk
mengurangi gejala nyeri, mual, atau kelainan fungsi tubuh.
k. Pencegahan
Ada
dua cara untuk mencegah kanker vulva :
1. Menghindari faktor resiko yang bisa dikendalikan.
2. Mengobati keadaan prekanker sebelum terjadinya kanker
invasif.
Keadaan prekanker bisa
ditemukan dengan menjalani pemeriksaan sistem reproduksi secara teratur dan
memeriksakan setiap ruam, atau tahi lalat, benjolan atau kelainan vulva lainnya
yang sifatnya menetap. Pengobatan NIV bisa mencegah sejumlah kasus kanker invasif.
Setiap wanita
hendaknya mewaspadai setiap perubahan yang terjadi pada kulit vulva dengan
melakukan pemeriksaan sendiri setiap bulan.
2. Tumor
ganas (kanker) Vagina
a.
Pengertian
Ø
Vagina
adalah saluran terpanjang 7,5-10 cm, ujung atasnya berhubungan denga serviks
(leher rahim), sedangkan ujung bawahnya berhubungan dengan vulva.
Ø
Tumor ganas vagina adalah kanker yang tumbuh
dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah vagina dan merusak jaringan
sekitarnya.
b.
Epidemiologi
Kanker vagina jarang
terjadi, biasanya diderita oleh wanita berumur 50 tahun ke atas.
c.
Patologi
Terbanyak (hampir 99%) adalah squamous cell carsinoma,
sisanya adenokarsinoma dan embrional rhabdomiosarkoma (sarkoma botrioides).
d.
Klasifikasi
1. Karsinoma sel skuamosa
Berasal dari lapisan
epitelium vagina. Banyak ditemukan di vagina bagian atas
pada wanita berusia
60-80 tahun.
2. Karsinoma
verukosa
Sejenis karsinoma sel skuamosa yang
tumbuhnya lambat, tumbuh ke arah rongga vagina
dan tampak seperti kutil atau bunga kol.
3. Adenokarsinoma
Sering terjadi pada wanita 12-30
tahun.
4. Melanoma maligna
Berasal dari sel-sel penghasil
pigmen, banyak ditemukan di vagina bagian bawah.
5. Sarkoma
Tumbuh jauh di dalam dinding vagina. Ada beberapa
jenis sarkoma, yaitu :
- Ieiomiosarkoma,
menyerang wanita berusia 50 tahun ke atas
- Rabdomiosarkoma,kanker
pada masa kanak-kanak (biasanya terjadi sebelum usia 3 tahun)
0
|
Karsinoma in situ, karsinoma intra epitelial
(sel-sel kanker terbatas pada epitelium vagina dan belum menyebar ke lapisan
vagina lainnya. Pada stadium ini kanker tidak dapat menyebar ke bagian tubuh
lainnya.
|
I
|
Kanker telah menyebar ke bawah epitelium tetapi
masih terbatas pada mukosa vagina (mukosa terdiri dari 2 lapisan, yaitu
epitelium dan lamina propria atau stroma subepitel)
|
IA
|
Tumor berukuran kurang dari 2 cm dan telah menembus
ke dalam dinding kurang dari 1 mm.
|
IB
|
Tumor lebih besar dari 2 cm dan telah menembus ke
dalam dinding sedalam lebih dari 1 mm
|
II
|
Proses sudah meluas sampai jaringan ikat
vagina,tetapi belum mencapai dinding panggul maupun organ lain.
|
III
|
Proses telah meluas sampai ke salah satu/kedua
dinding panggul dan atau telah menyebar ke kelenjar getah bening.
|
IVA
|
Proses sudah keluar dari panggul kecil,atau sudah menginfiltrasi
mukosa rektum/kandung kemih
|
IVB
|
Kanker telah menyebar ke organ tubuh yang jauh
misalnya paru-paru
|
e. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan. Pemeriksaan
lainnya yang biasa dilakukan :
·
Kolposkopi
-> pemeriksaan dinding vagina dengan bantuan kaca pembesar.
·
Biopsi
-> pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh
jaringan vagina.
·
Staging
-> Staging merupakan proses penentuan penyebaran kanker, yang
penting dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis penyakit.
Penilaian penyebaran kanker vagina melibatkan beberapa pemeriksaan berikut :
1) Pemeriksaan fisik menyeluruh
2) Pielogram intravena
3) Barium enema
4) Rontgen dada
5) Sistoskopi
6) Proktoskopi
7) CT scan
8) Skening tulang
f. Pengobatan
Terdapat 3 macam pengobatan untuk kanker vagina :
1) Pembedahan
ü Bedah laser
ü Eksisi lokal luas : dilakuakn pengangkatan kanker dan
sebagian jaringan di sekitarnya. Untuk memperbaiki vagina bisa dilakukan
pencangkoan kulit yang di ambil dari bagian tubuh lainnya.
ü Vaginektomi : pengangkatan vagina.
ü Eksenterasi : pengangkatan kolon bawah, rektum atau
kandung kemih, disertai pengangkatan serviks, rahim dan vagina.
2) Terapi
penyinaran
Pada terapi penyinaran
digunakan sinar X dosis tinggi atau sinar berenergi tinggi lainnya untuk
membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.
3) Kemoterapi
Pada kemoterapi
digunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker.
v
Pengobatan
kanker vagina tergantung kepada stadium dan jenis penyakit, serta usia dan
keadaan umum penderita.
1. Kanker vagina stadium 0
·
Vaginektomi
·
Terapi
radiasi interna
·
Bedah
laser
·
Kemoterapi
intravagina
2. Kanker vagina stadium I
·
Kanker
skuamosa -> radiasi interna, eksisi lokal luas, vaginektomi dan diseksi
kelenjar getah bening.
·
Adenokarsinoma
-> vaginektomi dan pengangkatan rahim, ovarium, tuba fallopi disertai
diseksi kelenjar getah bening panggul, radiasi interna dan eksisi lokal luas.
3. Kanker vagina stadium II, III dan IVA
·
Kombinasi
radiasi interna dan eksterna
·
Pembedahan
4. Kanker vagina stadium IVB
·
Penyinaran
·
Kemoterapi
g. Pencegahan
Cara
terbaik mencegah kanker vagina adalah menghindari faktor resikonya. Jaga area
kewanitaan tetap bersih dan terhindar dari infeksi jenis apapun.
3.
Tumor ganas (kanker) Tuba
a. Pengertian
v
Tuba
adalah saluran yang keluar dari kornu rahim
kanan dan kiri, panjangnya 12-13 cm, diameternya 3-8 mm. bagian luarnya
diliputi oleh peritoneum viseral yang merupakan bagian dari ligamentum latum.
v
Tumor tuba adalah kanker yang tumbuh
dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah tuba dan merusak jaringan
sekitarnya.
b. Epidemologi
Karsinoma tuba fallopi primer termasuk jarang,
merupakan tumor ganas primer saluan genetalia perempuan yang jumlahnya paling
sedikit, yaitu 0,5% hingga 1% dari semua keganasan ginekologi. Ditemukan
1 banding 1000 kasus operasi ginekologi abdominal, dapat dijumpai pada semua
umur (dari 19-80), dengan rata – rata puncaknya pada usia 52 tahun. Kebanyakan
tumor ganas yang timbul dalam tuba fallopi adalah penyebaran dari kanker
ovarium atau uterus. Sehingga terdapat kriteria untuk menetapkan tumor apapun
sebagai tumor primer dari tuba fallopi. Kanker harus terletak dalam tuba, dan
uterus serta ovarium harus terbebas dari karsinoma. Bila bagian lain terdapat
kanker, maka tumor dalam tuba fallopi secara histology harus benar – benar
berbeda.
c. Patologi
Hsu, Taymor, dan Hertig membagi histologik tumor ini
dalam 3 jenis menurut keganasannya:
1. Jenis papiler : tumor belum
mencapai otot tuba dan difeensiasi selnya masih baik, batas daerah normal
dengan tumor masih dapat ditunjukkan.
2. Jenis papilo-alveolar
(adenomatosa) : tumor ini telah memasuki otot tuba dan memperlihatkan gambaran
kelenjar.
3. Jenis alveo-meduler : terlihat
mitosis yang atipik dan terlihat invasi sel ganas ke dalam saluran limfa tuba.
d. Klasifikasi
Tumor
ganas primer tuba fallopi yang paling sering adalah adenokarsinoma. Tumor –
tumor lain dapat berupa sarcoma seperti leimoosarkoma, kondrosarkoma, tumor
mesodermal campuran, limfoma, dan kariokarsinoma. Semua jenis kanker ganas
dalam tuba fallopi ini sangat jarang. Tumor ganas tuba fallopi bernetastasis
dengan pembuluh limfe menuju kelenjar regional dan menyebar dengan cara
bermigrasi ke dalam pelvis atau rongga abdomen, atau mungkin berpenetrasi ke
serosa dan sel – sel melepaskan diri langsung ke dalah pelvis atau rongga
abdomen.
e. Faktor penyebab
f. Gejala
Bila
terdapat tanda dan gejala yaitu rabas vagina, perdarahan abnormal vagina atau
rabas, menstruasi yang tidak teratur, dan nyeri. Kanker tuba paling banyak
ditemikan pada wanita pasca menopause, tetapi bisa juga ditemukan pada wanita
yang lebih muda.
g. Stadium
Stadium
|
Kriteria
|
IA
|
Pertumbuhan tumor terbatas pada salah satu tuba; tidak ada ascites.
1. Tak
ditemukan tumor di permukaan luar, kapsulnya utuh.
2. Tumor
terdapat di permukaan luar, atau kapsulnya pecah atau kedua-duanya.
|
IB
|
Pertumbuhan tumor terbatas pada kedua tuba; tidak ada asites.
1. Tak ada
tumor di permukaan luar, kapsulnya utuh.
2. Tumor
terdapat di permukaan luar, atau kapsulnya pecah, atau kedua-duanya.
|
IC
|
Tumor dari tingkatan klinik 1A dan IB, tetapi ada asites atau cucian
rongga perut positif.
|
II
|
Pertumbuhan tumor melibatkan satu atau dua tuba, dengan perluasan ke
panggul.
|
IIA
|
Perluasan proses dan/ atau metastatis ke uterus atau ovarium.
|
IIB
|
Perluasan proses ke jaringan panggul lainnya.
|
IIC
|
Tumor dari tingkat klinik IIA atau IIB, tetapi dengan asites dan/atau
cucian rongga perut positif.
|
III
|
Tumor melibatkan satu atau dua tuba dengan penyebaran kelenjar limfa
intraperitoneal, atau kedua-duanya. Tumor terbatas pada panggul kecil dengan
bukti histologik penyebaran ke usus halus atau omentum.
|
IV
|
Pertumbuhan tumor melibatkan salah satu atau kedua tuba dengan metastasis
berjarak jauh. Bilamana didapatkan efusi pleural, harus ada sitologi positif
untuk menyebutnya sebagai tingkat klinik IV. Begitu pula ditemukannya
metastasis keparenkim hatci.
|
h. Diagnosa
Untuk
memastikan apakah tuba falopi tersumbat, dokter bisa menggunakan hysterosalpingography.
Pada prosedur ini, sinar X dilakukan setelah radiopaque dye disuntikkan melalui
servik. Pewarna tersebut menyebar secara cepat ke dalam rongga rahim dan tuba
falopi. Prosedur ini dilakukan dengan singkat setelah periode menstruasi seorang
wanita berakhir. Prosedur ini bisa mendeteksi gangguan struktur yang bisa
menyumbat tuba falopi. Meskipun begitu, sekitar 15% kasus,
hysterosalpingography mengindikasi bahwa tuba falopi tersumbat padahal tidak-
disebut hasil positif palsu. Setelah hysterosalpingography dengan hasil normal,
kesuburan tampak sedikit meningkat, kemungkinan karena prosedur tersebut
sementara waktu memperlebar pembuluh (dilate) atau menjernihkan pembuluh pada
lendir. Oleh karena itu, dokter bisa menunggu jika seorang wanita menjadi hamil
setelah prosedur ini sebelum tes tambahan pada fungsi tubafalopi.
Prosedur lain (disebut sonohysterography) kadangkala digunakan untuk memastikan apakah tuba falopi tersumbat. Cairan garam (saline) disuntikkan ke dalam interior rahim melalui servik selama ultrasonografi sehingga ruang dalam tersebut digelembungkan dan kelainan bisa terlihat. Jika cairan mengalir ke dalam tuba falopi, pembuluh tersebut tidak tersumbat. Prosedur ini cepat dan tidak memerlukan anestesi. Hal ini dipertimbangkan lebih aman dibandingkan hysterosalpingography karena hal ini tidak membutuhkan radiasi atau suntikan pewarna. Meskipun begitu, hal ini tidak akurat.
Jika kelainan di dalam rahim terdeteksi, dokter meneliti rahim dengan pipa pelihat disebuthyteroscope, yang dimasukkan ke dalam servik ke dalam rahim. Jika adhesion, polip, atau fibroid kecil terdeteksi, hyteroscope kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal, meningkatkan kesempatan bahwa wanitatersebutmenjadihamil.Jika bukti menduga bahwa tuba falopi tersumbat atau bahwa seorang wanita bisa mengalami endometriosis, pipa pelihat kecil disebut laparoscope dimasukkan ke rongga panggul melalui sayatan kecil persis di bawah pusar. Biasanya, anestesi umum dilakukan. Prosedur ini memudahkan dokter untuk melihat rahim secara langsung, tuba falopi, dan ovarium. Laparoscope bisa juga digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal di dalam panggul.
Prosedur lain (disebut sonohysterography) kadangkala digunakan untuk memastikan apakah tuba falopi tersumbat. Cairan garam (saline) disuntikkan ke dalam interior rahim melalui servik selama ultrasonografi sehingga ruang dalam tersebut digelembungkan dan kelainan bisa terlihat. Jika cairan mengalir ke dalam tuba falopi, pembuluh tersebut tidak tersumbat. Prosedur ini cepat dan tidak memerlukan anestesi. Hal ini dipertimbangkan lebih aman dibandingkan hysterosalpingography karena hal ini tidak membutuhkan radiasi atau suntikan pewarna. Meskipun begitu, hal ini tidak akurat.
Jika kelainan di dalam rahim terdeteksi, dokter meneliti rahim dengan pipa pelihat disebuthyteroscope, yang dimasukkan ke dalam servik ke dalam rahim. Jika adhesion, polip, atau fibroid kecil terdeteksi, hyteroscope kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal, meningkatkan kesempatan bahwa wanitatersebutmenjadihamil.Jika bukti menduga bahwa tuba falopi tersumbat atau bahwa seorang wanita bisa mengalami endometriosis, pipa pelihat kecil disebut laparoscope dimasukkan ke rongga panggul melalui sayatan kecil persis di bawah pusar. Biasanya, anestesi umum dilakukan. Prosedur ini memudahkan dokter untuk melihat rahim secara langsung, tuba falopi, dan ovarium. Laparoscope bisa juga digunakan untuk mengeluarkan atau mengangkat jaringan tidak normal di dalam panggul.
i. Pengobatan
Pengobatan
yang utama untuk kanker tuba adalah pembedahan untuk mengangkat kedua saluran,
kedua indung telur, dan rahim disertai pengangkatan kelenjar getah bening perut
dan panggul. Pada kanker stadium lanjut, setelah pembedahan mungkin perlu
dilakukan kemoterapi atau terapi penyinaran.
4 .
Tumor ganas (kanker) Uterus
a. Pengertian
v
Uterus
adalah suatu struktur otot yang cukup kuat,
bagian luarnya ditutupi oleh peritonium
sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim, dalam keadaan tidak
hamil, rahim terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan
dubur.
v
Tumor uterus
adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah
rahim dan merusak jaringan sekitarnya.
b.
Etiologi
v
Wanita dengan nullypara ( wanita kurang subur ).
v
Etiologi secara pasti tidak
diketahui
v
Tetapi ada korelasi antara pertumbuhan tumor
dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri dan
juga dipengaruhi oleh hormone pertumbuhan.
v
faktor genetic
v
Resiko tinggi wanita dengan umur diatas 35 tahun
c. Klasifikasi
Jenis – jenis tumor uterus berdasarkan letaknya, yaitu :
1. Ektoserviks terbagi
atas :
Kista jaringan embrional : berasal dari saluran mesonefridikus wolffi terdapat pada dinding samping ektoserviks. Kista endometriosis yang letaknya suferfisial. Folikel atau kista nabothi yaitu kista retensi kelenjar endoserviks, biasanya terdapat pada wanita multipara, sebagai penampilan servisitis. Kista ini jarang mendapat ukuran besar berwarna putih mengkilat bersih cairan mucus. Kalau kista ini membesar akan menyebabkan nyeri.
Papiloma dapat tunggal maupun multiple seperti kondiloma akuminata. Kebanyakan papiloma ini adalah sisa epitel yang terlebih pada trauma bedah maupun persalinan.
Hemangioma ini jarang terjadi biasanya terletak pada superficial yang dapat membesar pada waktu kehamilan yang dapat menyebabkan metroragi
Kista jaringan embrional : berasal dari saluran mesonefridikus wolffi terdapat pada dinding samping ektoserviks. Kista endometriosis yang letaknya suferfisial. Folikel atau kista nabothi yaitu kista retensi kelenjar endoserviks, biasanya terdapat pada wanita multipara, sebagai penampilan servisitis. Kista ini jarang mendapat ukuran besar berwarna putih mengkilat bersih cairan mucus. Kalau kista ini membesar akan menyebabkan nyeri.
Papiloma dapat tunggal maupun multiple seperti kondiloma akuminata. Kebanyakan papiloma ini adalah sisa epitel yang terlebih pada trauma bedah maupun persalinan.
Hemangioma ini jarang terjadi biasanya terletak pada superficial yang dapat membesar pada waktu kehamilan yang dapat menyebabkan metroragi
2. Endoserviks terdiri atas:.
adalah suatu adenoma maupun adenofibroma yang berasal dari selaput lendir endoserviks. Yang tangkainya dapat panjang keluar dari vulva. Epitel yang melapisi adalah epitel endoserviks yang dapat juga mengalami metaplasi menjadi lebih semakin kompleks.bagian polip ini biasa menjadi nekrosis dan mengalami perdarahan . polip ini berkembang karena pengaruh radang maupun virus.
adalah suatu adenoma maupun adenofibroma yang berasal dari selaput lendir endoserviks. Yang tangkainya dapat panjang keluar dari vulva. Epitel yang melapisi adalah epitel endoserviks yang dapat juga mengalami metaplasi menjadi lebih semakin kompleks.bagian polip ini biasa menjadi nekrosis dan mengalami perdarahan . polip ini berkembang karena pengaruh radang maupun virus.
3. Endometrium
Polip endometrium sering didapati terutama dengan pemeriksaan histeroskopi. Polip berasal antara lain dari adnoma, adenofibroma, mioma , submukusum, plasenta.insiden tidak diketahui paling sering pada perempuan berumur 30-59 tahun. Kurang dari sepertiga memperllihatkan endometrium fungsional. Bisa memperlihatkan hyperplasia kistik. Bisa menonjol melalui serviks
Adenoma- adenufibroma yang biasannya terdiri dari epitel endometrium dengan stroma yang sesuai dengan daur haid. Adenoma ini biasanya merupakan penampilan hyperplasia endometrium, dengan konsistensi lunak dan berwarna kemerah merahan . Gangguan yang sering ditimbulkan adalah metroragi sampai menometroragi, infertilitas.Pula mempunyai kecenderungan kambuh kembali.
Mioma submukosum:sarang mioma dapat tumbuh bertangkai dan keluar dari uterus menjadi mioma yang dilahirkan. Tumor berkonsistensi kenyal berwarna putih
Polip plasenta: berasal dari plasenta yang tertinggal setelah partus maupun abortus. Polip plasenta menyebabkan uterus mengalami sub-involusi yang menimbulkan perdarahan.
Polip endometrium sering didapati terutama dengan pemeriksaan histeroskopi. Polip berasal antara lain dari adnoma, adenofibroma, mioma , submukusum, plasenta.insiden tidak diketahui paling sering pada perempuan berumur 30-59 tahun. Kurang dari sepertiga memperllihatkan endometrium fungsional. Bisa memperlihatkan hyperplasia kistik. Bisa menonjol melalui serviks
Adenoma- adenufibroma yang biasannya terdiri dari epitel endometrium dengan stroma yang sesuai dengan daur haid. Adenoma ini biasanya merupakan penampilan hyperplasia endometrium, dengan konsistensi lunak dan berwarna kemerah merahan . Gangguan yang sering ditimbulkan adalah metroragi sampai menometroragi, infertilitas.Pula mempunyai kecenderungan kambuh kembali.
Mioma submukosum:sarang mioma dapat tumbuh bertangkai dan keluar dari uterus menjadi mioma yang dilahirkan. Tumor berkonsistensi kenyal berwarna putih
Polip plasenta: berasal dari plasenta yang tertinggal setelah partus maupun abortus. Polip plasenta menyebabkan uterus mengalami sub-involusi yang menimbulkan perdarahan.
4. Miometrium
Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya ,sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah fibromioma,leiomioma, ataupun pibroid.
Berdasarkan otopsi novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.Mioma uteri belum pernah terjadi sebelum menars. Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh.
Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya ,sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah fibromioma,leiomioma, ataupun pibroid.
Berdasarkan otopsi novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.Mioma uteri belum pernah terjadi sebelum menars. Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh.
d. Faktor resiko
1. Usia, kanker uterus terutama
menyerang wanita berusia 50 tahun keatas.
2. Hiperplasia endometrium
3. Terapi Sulih Hormon (TSH)
4. TSH digunakan untuk mengatasi
gejala-gejala menopause, mencegah osteoporosis dan mengurangi resiko penyakit
jantung atau stroke.
Wanita yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko yang lebih tinggi. Pemakaian estrogen dosis tinggi dan jangka panjang tampaknya mempertinggi resiko ini.
Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan progesteron memiliki resiko yang lebih rendah karena progesteron melindungi rahim.
Wanita yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko yang lebih tinggi. Pemakaian estrogen dosis tinggi dan jangka panjang tampaknya mempertinggi resiko ini.
Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan progesteron memiliki resiko yang lebih rendah karena progesteron melindungi rahim.
5. Obesitas
Tubuh membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obes.
Tubuh membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obes.
6. Diabetes (kencing manis)
7. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
8. Tamoksifen
Wanita yang mengkonsumsi tamoksifen untuk mencegah atau mengobati kanker payudara memiliki resiko yang lebih tinggi. Resiko ini tampaknya berhubungan dengan efek tamoksifen yang menyerupai estrogen terhadap rahim.
Keuntungan yang diperoleh dari tamoksifen lebih besar daripada resiko terjadinya kanker lain, tetapi setiap wanita memberikan reaksi yang berlainan.
Wanita yang mengkonsumsi tamoksifen untuk mencegah atau mengobati kanker payudara memiliki resiko yang lebih tinggi. Resiko ini tampaknya berhubungan dengan efek tamoksifen yang menyerupai estrogen terhadap rahim.
Keuntungan yang diperoleh dari tamoksifen lebih besar daripada resiko terjadinya kanker lain, tetapi setiap wanita memberikan reaksi yang berlainan.
9. Ras
Kanker rahim lebih sering ditemukan pada wanita kulit putih.
Kanker rahim lebih sering ditemukan pada wanita kulit putih.
10. Kanker kolorektal
11. Menarke (menstruasi pertama) sebelum
usia 12 tahun
12. Menopause setelah usia 52 tahun
13. Tidak memiliki anak
14. Kemandulan
15. Penyakit ovarium polikista
16. Polip endometrium.
e.
Gejala
1. Perdarahan rahim yang abnormal
2. Siklus menstruasi yang abnormal
3. Perdarahan diantara 2 siklus
menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)
4. Perdarahan vagina atau spotting pada
wanita pasca menopause
5. Perdarahan yang sangat lama, berat
dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun)
6. Nyeri perut bagian bawah atau kram
panggul
7. Keluar cairan putih yang encer atau
jernih (pada wanita pasca menopause)
8. Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
9. Nyeri ketika melakukan hubungan
seksual.
10. Tekanan abdomen (merasa penuh, bengkak atau kembung)
11. Perasaan ingin buang air kecil
terus menerus
f.
Stadium
Tingkat
|
Kriteria
|
I
|
kanker hanya tumbuh
di badan rahim
|
II
|
kanker telah
menyebar ke leher rahim (serviks)
|
III
|
kanker telah
menyebar ke luar rahim, tetapi
masih di dalam
rongga panggul dan belum
menyerang kandung
kemih maupun rektum. Kelenjar getah bening panggul mungkin mengandung sel-sel
kanker.
|
IV
|
Kanker telah
menyebar ke dalam kandung kemih atau rektum atau kanker telah menyebar keluar
rongga panggul.
|
g.
Diagnosa
1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gejala dan hasil pemeriksaan berikut :
2. Pemeriksaan panggul
3. Pap smear
4. USG transvagina
5. Biopsi endometrium.
6. Untuk membantu menentukan stadium
atau penyebaran kanker, dilakukan pemeriksaan berikut :
7. Pemeriksaan darah lengkap
8. Pemeriksaan air kemih
9. Rontgen dada
10. CT scan tulang dan hati
11. Sigmoidoskopi
12. Limfangiografi
13. Kolonoskopi
14. Sistoskopi.
h. Pengobatan
Pemilihan pengobatan tergantung kepada ukuran tumor, stadium, pengaruh
hormon terhadap pertumbuhan tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor serta usia
dan keadaan umum penderita. Metode pengobatan:
1. Pembedahan
Kebanyakan penderita akan menjalani Histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya.
Kebanyakan penderita akan menjalani Histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya.
2. Terapi penyinaran (radiasi)
Digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.
Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari.
Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Ada 2 jenis terjapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker rahim:
Digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.
Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari.
Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Ada 2 jenis terjapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker rahim:
1. Radiasi eksternal : digunakan sebuah
mesin radiasi yang besar untuk mengarahkan sinar ke daerah tumor. Penyinaran
biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama beberapa minggu dan penderita
tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada radiasi eksternal tidak ada zat
radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh.
2. Radiasi internal : digunakan sebuah
selang kecil yang mengandung suatu zat radioaktif, yang dimasukkan melalui
vagina dan dibiarkan selama beberapa hari. Selama menjalani radiasi internal,
penderita dirawat di rumah sakit.
3. Kemoterapi
Pada terapi hormonal digunakan zat
yang mampu mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah pemakaian
hormon oleh sel kanker. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan
menyebabkan perubahan di dalam jaringan rahim.
Sebelum dilakukan terapi hormon, penderita menjalani tes reseptor hormon. Jika jaringan memiliki reseptor, maka kemungkinan besar penderita akan memberikan respon terhadap terapi hormonal.
Terapi hormonal merupakan terapi sistemik karena bisa mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Pada terapi hormonal biasanya digunakan pil progesteron.
Terapi hormonal dilakukan pada:
Sebelum dilakukan terapi hormon, penderita menjalani tes reseptor hormon. Jika jaringan memiliki reseptor, maka kemungkinan besar penderita akan memberikan respon terhadap terapi hormonal.
Terapi hormonal merupakan terapi sistemik karena bisa mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Pada terapi hormonal biasanya digunakan pil progesteron.
Terapi hormonal dilakukan pada:
a. penderita kanker rahim yang tidak
mungkin menjalani pembedahan ataupun terapi penyinaran
b. penderita yang kankernya telah
menyebar ke paru-paru atau organ tubuh lainnya.
c. penderita yang kanker rahimnya
kembali kambuh.
Jika kanker telah menyebar atau tidak memberikan respon terhadap terapi hormonal, maka diberikan obat kemoterapi lain, yaitu siklofosfamid, doksorubisin dan sisplastin.
Jika kanker telah menyebar atau tidak memberikan respon terhadap terapi hormonal, maka diberikan obat kemoterapi lain, yaitu siklofosfamid, doksorubisin dan sisplastin.
i. Pencegahan
Setiap wanita sebaiknya menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear secara
rutin, untuk menemukan tanda-tanda pertumbuhan yang abnormal.
Wanita yang memiliki faktor resiko kanker rahim sebaiknya lebih sering menjalani pemeriksaan panggul, Pap smear dan tes penyaringan (termasuk biopsi endometrium).
Wanita yang memiliki faktor resiko kanker rahim sebaiknya lebih sering menjalani pemeriksaan panggul, Pap smear dan tes penyaringan (termasuk biopsi endometrium).
5.
Tumor ganas (kanker) ovarium
a. Pengertian
v
Ovarium
adalah organ reproduksi wanita yang bentuknya menyerupai kacang dan tersimpan
di dalam rongga pert sebelah bawah.
v
Tumor
ganas ovarium adalah kanker yang menyerang ovarium
b. Epidemologi
Kanker ovarium jarang ditemukan pada usia dibawah 40 tahun. Angka kejadianmeningkat
dengan makin tua, yaitu 15-16 per 100.000 pada usia 40-44 tahun,
dan paling tinggiyaitu 57 per 100.000 pada usia 70-74 tahun. Usia median saat
diagnosis adalah 63 tahun dan48% penderita berusia diatas 65 tahun. Belum ada
metode skrining yang efektif untuk kanker ovarium, sehingga 70% kasus
ditemukan pada stadium lanjut.
c. Etiologi
Ada beberapa teori tentang etiologi kanker ovarium
yaitu:
1.
Hipotesis Incessant Ovulation
Teori ini pertama kali diperkenalkan olehFathalla pada tahun 1972, yangmenyatakan
bahwa pada saat terjadi ovulasi, terjadi kerusakan pada sel-sel ovarium.Untuk
penyembuhan luka yang sempurna diperlukan waktu. Jika sebelum penyembuhan
tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru, proses penyembuhan akan
terganggu dankacau sehingga dapat menimbulkan transformasi menjadi sel-sel
tumor.
2. Hipotesis gonadotropin
Teori ini didasarkan pada pengetahuan dari percobaan binatang dan data
epidemiologi. Hormon hipofisis diperlukan untuk perkembangan tumor ovarium
pada beberapa percobaan pada rodentia. Pada percobaan ini ditemukan
bahwa jika kadar hormon estrogen rendah di sirkulasi
perifer, kadar hormon gonadotrofin juga menigkat.Peningkatan kadar hormon gonadotrofin ini ternyata berhubungan dengan makin bertambah
besarnya tumor ovarium pada binatang tersebut.Kelenjar ovarium yang telah
terpapar pada zat karsinogenik dimetilbenzatrene (DMBA) akan
menjadi tumor ovarium jika ditransplantasikan pada tikus yang telah diooforektomi,
tetapi tidak menjadi tumor jika tikus tersebut telah di
hipofisektomi.Berkurangnya resiko kanker ovarium pada wanita multipara dan
wanita pemakai pil kontrasepsi dapat diterangkan dengan rendahnya kadar
gonadotrofin.
3 Hipotesis
Androgen
Teori ini pertama kali
dikemukakan oleh Rish pada tahun 1998 yang mengatakan bahwa androgen
mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Teori ini
didasarkan pada bukti bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Epitelovarium
selalu terpapar pada androgenic steroid yang berasal dari ovarium itu sendiri
dan kelenjar adrenal, seperti androstenedion, dehidroepiandrosteron, dan
testosterone. Dalam percobaan invitro androgen dapat menstimulasi
pertumbuhan epitel ovarium normal dan juga sel-sel kanker ovarium epitel
dalam kultur sel.
4 Hipotesis
progesteronBerbeda dengan efek peningkatan resiko kanker ovarium oleh androgen,
progesteron ternyata mempunyai peranan protektif terhadap terjadinya kanker ovarium.
Epitel normal ovarium mengandung reseptor progesteron. Pemberian pil yang
mengandung estrogen saja pada wanita pasca menopauseakan meningkatkan resiko
terjadinya kanker ovarium, sedangkan pemberian kombinasidengan pemberian
progesteron akan menurunkan resikonya. Kehamilan, dimana kadar progesteron tinggi, menurunkan resiko kanker ovarium. Pil kontrasepsi kombinasimenurunkan
resiko terjadinya kanker ovarium.
5. Paritas
Penelitian menunjukkan bahwa
wanita dengan satu paritas yang tinggi memilikiresiko terjadinya kanker ovarium
yang lebih rendah daripada nulipara, yaitu denga risikorelative 0,7. Pada
wanita yang mengalami 4 atau lebih kehamilan aterm, resiko terjadinyakanker
ovarium berkurang sebesar 40% jika dibandingkan dengan wanita nulipara.
6. Pil kontrasepsi
Penelitian dari center for disease
control menemukan penurunan resiko terjadinya kanker ovarium sebesar 40% pada
wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontasepsi,yaitu dengan resiko
relative 0,6.
7 Talk
Pemakaian talk pada daerah
perineum dilaporkan meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium dengan
resiko relative 1,9%.
8 Ligasi tuba
Pengikatan tuba ternyata
menurunkan terjadinya kanker ovarium dengan resiko relatif 0,3. Mekanisme
terjadinya efek protektif ini diduga dengan terputusnya akses talk
ataukarsinogen lainnya dengan ovarium.
d.
Patologi
1. Pertumbuhan tumor prime diikuti oleh infiltrasi ke
jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar seperti perasaan
sebah, makan sedikit terasa cepat menjadi kenyang, sering kembung, nafsu makan
menurun. Kecenderungan untuk melakukan implantasi di rongga perut merupakan
ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan ascites.
2. Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan
histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal,
entodermal, dan mesodermal) dengan sifat-sifat histologis
maupun biologis yang beraneka ragam. Oleh sebab itu histiogenesis maupun
klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan.
3. Kira-kira 60% terdapat pada usia peri-menopausal, 30%
dalam masa reproduksi dan 10% pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat
jinak (benigna), tidak jelas jinak tapi juga tidak pasti ganas (borderline
malignancy atau carcinoma of low-malignant potential) dan
yang jelas ganas (true malignant).
e. Klasifikasi
Klasifikasi Tumor Ovrium menurut WHO yang dimodifikasi :
Ø
Tumor Epitelial yang umum :
a. Serosa,
b. Musinosa
c. Endometroid,
d. Clearcell (mesonephroid)
:
b)
Benigna,
c)
Borderline malignancy,
d)
Karsinoma,
a. Brenner,
b. Epitelial campuran,
c. Karsinoma tak terdiferensiasi,
Ø
Tumor tak terklasifikasi.
Ada 2 jenis : serosa dan musinosa. Kedua-duanya mempunyai kecenderungan
untuk tumbuh bilateral dan berimplantasi di rongga peritoneum. Perubahan ke
arah ganas terjadi pada yang berjenis serosa. Kistadenokarsinoma
papiliferum pseudo-musinosa merupakan
satu variasi dari tumor dengan kemungkinan penyebaran lokal yang tinggi.
1. Sex-cord stromal tumours :
·
Tumor Granulosa-theca cell :
2.
Benigna,
3.
Maligna,
· Androblastoma (sertoli-leydig),
4.
Androblastoma atau tumor yang berasal dari
mesenkhim akan mendiferensiasi ke dalam struktur gonadal laki-laki :
5. Arrhenoblastoma, mikroskopik terlihat gambaran
tubuler dan berhubungan denagan gejala/ tanda defeminisasi atau maskulinisasi,
6. Tumor Sertoli cell, adalah bentuk feminisasi dari
Androblastoma. Sel-sel sertoli merupakan sumber dari estrogen pada gonad
lelaki,
7. Tumor Sel Granulosa,
8. Tumor Sel Theca.
a. Gynandroblastoma,
b. Tidak terklasifikasi.
Diduga berasal dari mesenkhim
gonad, yang potensial mampu mendiferensiasi ke dalam struktur gonad
laki-laki dan wanita hingga tumor dapat mengakibatkan munculnya tanda-tanda
maskulinisasi atau feminisasi pada penderitanya.
·
Tumor-tumor lipid cell.
·
Tumor-tumor Germ-cell :
- Disgerminoma,
Biasanya terdapat pada wanita muda dan sangat
radioaktif. Tumor dengan permukaan rata, konsistensi kenyal, kecuali di
bagian-bagian yang mengalami degenerasi, berwarna sawo matang sampai
keabu-abuan. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat gambaran sarang-sarang sel
telur yang besar, bundar, ovoid, atau poligonal, terpisah oleh septa jaringan
ikat. 88,6% dapat disembuhkan hanya dengan USO (Unilateral Salpingo Oerectomy),
kalau perlu pasca bedah dapat dipertimbangkan radioterapi pada tumor
bed karena tumor ini sangat radiosensitif dan radiocurable.
-
Tumor Sinus Endodermal,
Berasal
dari jolk sac atau saccus vitellinus, umumnya
ditemukan pada gadis atau wanita muda (20 tahun) dan sangat ganas. Pada
pemeriksaan mikroskopik didapatkan retikulum dengan ruangan berbentuk kistik (sinus
endodermal) di tengahnya. Sinus tersebut terdiri atas pembuluh darah
ditengahnya oleh sel-sel kuboid.
-
Karsinoma Embrional,
-
Poli-Embrioma,
-
Khoriokarsinoma,
Tumor
primer berasal dari ovarium jarang ditemukan mempunyai ciri-ciri seperti khoriokarsinoma
sesudah kehamilan (NTGG = Neoplasia Trofoblast Ganas Gestasional).
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan sinsio – dan sitotrofoblastanpa villikhoroalis.
-
Teratoma :
Diduga berkembang dari jaringan embrional yang
pluripoten dan mampu membentuk elemen-elemen dari ketiga lapisan embrional.
Teratoma ovarium bisa ditemukan dalam bentuk kistik maupun solid. Teratoma
maligna yang ganas berbentuk solid, terdiri atas campuran jaringan
sel telur yang matang (matur) dan yang tidak matang (immatur).
Teratoma ganas biasanya ditemukan pada anak-anak dan pada penderita dalam masa
pubertas. Tumor ini tumbuh cepat dan mempunyai prognosis yang buruk. Pada
pemeriksaan klinik ditemukan tumor di samping uterus, kadang kala disertai
perdarahan dari uterus dan ascites. Terapinya pembedahan dengan khemoterapi
sebelum atau sesudahnya.
f. Faktor resiko
1. usia 55 – 59 tahun
2. pernah mengalami kanker payudara
3. penggunaan metode KB pil
4. nuliparitas
5. infertilitas
6. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara dan/atau
kanker ovarium
7. Riwayat keluarga yang menderita kanker kolon,
paru-paru, prostat dan rahim (menunjukkan adanya sindroma Lynch II).
g.
Gejala
1. Gejala awalnya berupa
rasa tidak enak yang samar-samar di perut bagian bawah.
2. Ovarium yang membesar
pada wanita pasca menopause bisa merupakan pertanda awal dari kanker ovarium.
3. Di dalam perut
terkumpul cairan dan perut membesar akibat ovarium yang membesar ataupun karena
penimbunan cairan.
4. Pada saat ini penderita
mungkin akan merasakan nyeri panggul,anemia dan
berat badannya menurun.
5. Kadang kanker ovarium
melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan berlebih pada lapisan rahim,
pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan rambut.
6. Gejala lainnya yang
mungkin terjadi:
- Panggul terasa berat
- Perdarahan pervaginam
- Siklus menstruasi abnormal
- Panggul terasa berat
- Perdarahan pervaginam
- Siklus menstruasi abnormal
7. Gejala saluran
pencernaan (perut kembung, nafsu makan berkurang, mual, munatah, tidak mampu
mencerna makanan dalam jumlah seperti biasanya).
h. Stadium
Stadium
|
Interpretasi
|
I
Ia
Ib
Ic
II
IIa
IIb
IIc
III
IV
Khusus
|
Tumor
terbatas di ovarium
Pertumbuhan tumor ganas di satu ovarium dan tidak ada asites
Tumor terbatas di kedua ovarium tanpa asites
Tumor terbatas di satu atau kedua ovarium, sitologi asites/air cucian
peritoneum posirif maligma
Tumor di satu atau kedua ovarium dengan pertumbuhan dalam pelvis
Tumor di satu atau kedua ovarium dengan pertumbuhan dalam pelvis minor
dan pada pembedahan tumor terangkat seluruhnya
Tumor meluas pada jaringan pelvis lain dan pada pembedahan tumor tidak
terangkat seluruhnya
Tumor stadium IIa atau IIb, tapi asites atau cucian peritoneum positif
sel maligma
Tumor di satu atau kedua ovarium dengan metastasis pada peritoneum di
luar panggul dan KGB retroperitoneal atau keduanya. Tumor terbatas pada
panggul kecil dengan metastasis ke dinding usus dan omentum, dibuktikan
dengan histopatologis
Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Metastasis ke
hati atau adanya efusi pleura yang dibuktikan dengan sitologi juda
digolongkan stadium IV
Kasus yang tidak dilakukan laparotomi, tapi diduga karsinoma ovarium
|
i. Diagnosa
Diagnosis didasarkan atas 3 gejala/ tanda yang
biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut :
1. Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan
infiltrasi ke jaringan sekitar,
2. Gejala diseminasi/ penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan
bermanifestasi adanya ascites
3. Gejala
hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi
atau hiperestrogenisme, intensitas gejala ini sangat
bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.
Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdominal akan mendapatkan tumor atau
masa, di dalam panggul dengan bermacam-macam konsistensi mulai dari yang kistik
sampai yang solid (padat). Pemakaian USG (Ultra Sono Graphy) dan CTscan
(Computerised axial Tomography scanning) dapat memberi informasi yang
berharga mengenai ukuran tumor dan perluasannya sebelum pembedahan. Laparotomi
eksploratif disertai biopsi potong beku (Frozen section) masih tetap
merupakan prosedur diagnostik paling berguna untuk mendapat gambaran
sebenarnhya mengenai tumor dan perluasannya seta menentukan strategi penanganan
selanjutnya.
j. Pengobatan
1. Pembedahan
Pada tingkatan awal, prosedur adalah TAH + BSO + OM + APP (optional).
Luas prosedur pembedahan ditentukan oleh insidensi dari seringnya penyebaran ke
sebelah yang lain (bilateral) dan kecenderungan untuk menginvasi badan rahim (korpus
uteri). Tindakan konservatif (hanya mengangkat tumor ovariumnya saja
: oophorektomi atau oophoro kistektomi) masih
dapat dibenarkan jika tingkat klinik penyakit T1a, wanita masih muda, blum
mempunyai anak, derajat keganasan tuor rendah seperti disgerminoma,
tumor sel granulosa, dan arrhenoblastoma atau low
potential malignancy = bordeline malignancy
2. Radioterapi
Sebagai pengobatan
lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik TI dan T2 (FIGO: Tingkat I dan
II), yang diberikan kpada panggul saja atau seluruh rongga perut. Pada tingkat klinik T3 dan T4
(FIGO: tingkay III dan IV) dilakukandebulking dilanjutkan dengan
khemoterapi. Radiasi untuk membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif
pada jenis tumor yang peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti
disgerminoma dan tumor sel granulosa.
3. Khemoterapi
Sekarang telah mendapat tempat yang diakui dalam penanganan tumor ganas
ovarium. Sejumlah obat sitostatika telah digunakan, termasuk agens
alkylating (seperti cyclophospamide, chlorambucil), antimetabolit (seperti Adriamisin)
dan agenslain (seperti Cis-Platinum). Penanganan
paliatif tumor ganas ovarium sering menggunakan preparat hormon progestativa.
k. Pencegahan
Beberapa faktor muncul untuk mengurangi risiko
kanker indung telur, termasuk:
a) Kontrasepsi oral (pil KB). Dibandingkan
dengan wanita yang tidak pernah menggunakan mereka, para wanita yang
menggunakan kontrasepsi oral selama lima tahun atau lebih mengurangi risiko
kanker ovarium sekitar 50 persen, sesuai dengan ACS.
b) Kehamilan dan menyusui. Memiliki paling
tidak satu anak menurunkan risiko Anda mengalami kanker ovarium. Menyusui anak-anak
juga dapat mengurangi risiko kanker ovarium.
KESIMPULAN
v Tumor ganas vulva adalah kanker yang tumbuh dengan
cepat dan tidak terkendali pada daerah vulva dan merusak jaringan sekitarnya.
v
Tumor
ganas vagina adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada
daerah vagina dan merusak jaringan sekitarnya
v
Tumor tuba adalah kanker yang tumbuh
dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah tuba dan merusak jaringan
sekitarnya.
v
Tumor uterus adalah kanker
yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali pada daerah rahim dan merusak
jaringan sekitarnya.
v
Tumor
ganas ovarium adalah kanker yang menyerang ovarium
SARAN
Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca
sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah yang penulis susun.
DAFTAR PUSTAKA
v Mochtar, Rustam. Sinopsis
obstetrik. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998.
v Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit
kandungan dan keluarga berencana. Jakarta: EGC, 1998.
v Prawirhadjo, Sarwono . Ilmu Kebianan. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2008, hal;588-595
v Sastrawinata,S.dkk.2004.obsetri patologi.jakarta:ECG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar